

DI SUSUN OLEH :
I PUTU SUMARIANTO
UNIVERSITAS ANDI DJEMMA (UNANDA)
CAB. MASAMBA
2010 / 201
TANAMAN HOLTIKULTURAL

Kecamatan Malino Kabupaten Goa akan segera dikembangkan Kawasan Hortikultura Terintegrasi khususnya komoditi sayuran karena potensial untuk pengembangan kawasan ini, dan selama ini masih belum tertata sebagai kawasan hortikultura terintegrasi.
Menteri Pertanian Anton Apriyantono, di Sulawesi Selaatan dalam penjelasannya pada pers mengatakan, dari pengalaman kawasan hortikultura sayur-sayuran di Malino pihaknya mampu mengidentifikasi apa yang dibutuhkan oleh suatu kawasan hortikultura serta bentuk persoalan yang dihadapi.
Pembangunan hortikultura selama ini, kata Menteri Pertanian, kekurangannya adalah tidak terintegrasi. Sebagai contoh, tanamannya sudah ada supaya terintegrasi harus ada packing dan grading hause, ada sarana transportasi, sarana packaging, ada kelembagaan dan ada rantai pasoknya sampai kepada konsumen akhir.
”Ini merupakan hasil diskusi di Malino dan rencananya akan dibuat konsep secara lebih rinci yakni dengan memfokuskan pada suatu kawasan hortikultura terintegrasi secara bertahap”, katanya
Ia juga mengatakan kalau kawasan hortikultura di Malino Kabupaten Goa ini sudah diidentifikasi sebagai kawasan hortikultura terintegrasi yang harus dibangun, maka pembangunannya harus difokuskan dulu sampai selesai sebelum pindah ke kawasan hortikultura di tempat lainnya mengingat anggarannya yang terbatas.
Menteri mengatakan sekarang ini kawasan yang sudah terintegrasi ada di 16 kawasan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan akan ditetapkan sebagai kawasan terintegrasi.
Hidroponik tanaman sayur Hidroponik berasal dari bahasa Latin hydros yang berarti air dan phonos yang berarti kerja.
Hidroponik arti harfiahnya adalah kerja air. Bertanam secara hidroponik kemudian dikenal dengan bertanam tanpa medium tanah (soilless cultivation). Sejarah : telah berkembang secara sederhana sejak zaman Babilonia dengan taman gantung dan suku Aztek dengan rakit rumput
Pada awalnya bertanam secara hidroponik menggunakan wadah yang hanya berisi air yang telah dicampur dengan pupuk, baik pupuk mikro maupun pupuk makro. Pada perkembangannya, bertanam hidroponik meliputi berbagai cara yaitu bertanam tanpa medium tanah, tidak hanya menggunakan wadah yang hanya diisi air berpupuk saja. Medium pasir, perlite, zeolit, rockwool, sabut kelapa, adalah beberapa bahan yang digunakan oleh para praktisi di dunia dalam bertanam secara hidroponik. Menurut pengertian ini, maka menanam anggrek (kecuali anggrek tanah) sebenarnya merupakan salah satu praktek bertanam secara hidroponik.
Anggrek ditanam pada berbagai jenis medium seperti pakis, arang kayu, moss, kulit kayu, sabut kelapa, dll. Semua medium tersebut tidak mengandung unsur hara sama sekali. Fungsi dari medium tersebut hanya untuk menopang tanaman saja. Pupuk atau unsur hara yang diperlukan, diberikan melalui pemupukan rutin dengan cara penyemprotan ke seluruh bagian tanaman dan ke dalam medium tumbuhnya. Pupuk yang diberikan harus memenuhi kebutuhan tanaman. Pupuk ini terdiri dari unsur hara makro (N,P,K,S,Mg) dan unsur hara mikro (Fe,Zn,Cu,Mn,B,Mo). Tiap tanaman memerlukan kandungan unsur dalam takaran tertentu.
Pada awalnya bertanam secara hidroponik menggunakan wadah yang hanya berisi air yang telah dicampur dengan pupuk, baik pupuk mikro maupun pupuk makro. Pada perkembangannya, bertanam hidroponik meliputi berbagai cara yaitu bertanam tanpa medium tanah, tidak hanya menggunakan wadah yang hanya diisi air berpupuk saja. Medium pasir, perlite, zeolit, rockwool, sabut kelapa, adalah beberapa bahan yang digunakan oleh para praktisi di dunia dalam bertanam secara hidroponik. Menurut pengertian ini, maka menanam anggrek (kecuali anggrek tanah) sebenarnya merupakan salah satu praktek bertanam secara hidroponik.
Anggrek ditanam pada berbagai jenis medium seperti pakis, arang kayu, moss, kulit kayu, sabut kelapa, dll. Semua medium tersebut tidak mengandung unsur hara sama sekali. Fungsi dari medium tersebut hanya untuk menopang tanaman saja. Pupuk atau unsur hara yang diperlukan, diberikan melalui pemupukan rutin dengan cara penyemprotan ke seluruh bagian tanaman dan ke dalam medium tumbuhnya. Pupuk yang diberikan harus memenuhi kebutuhan tanaman. Pupuk ini terdiri dari unsur hara makro (N,P,K,S,Mg) dan unsur hara mikro (Fe,Zn,Cu,Mn,B,Mo). Tiap tanaman memerlukan kandungan unsur dalam takaran tertentu.
Selanjutnya, tiap fase pertumbuhan tanaman juga memerlukan tiap jenis unsur hara dalam takaran tertentu pula. Pada anggrek, para praktisi mengelompokkan fase pertumbuhan tanaman menjadi tiga fase, yaitu fase vegetatif awal atau fase seedling atau fase pembibitan; fase vegetatif atau fase remaja; dan fase dewasa atau fase berbunga. Biasanya pada fase vegetatif awal, anggrek memerlukan unsur N (nitrogen) dalam jumlah yang tinggi sedangkan pada fase pembungaan maka unsur P (fosfor) dan K (kalium) diperlukan dalam jumlah yang tinggi.
Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa. Bagi sebagian besar orang tidak akan percaya di antara ratusan tomat yang dimakan tidak tumbuh di atas tanah melainkan di air. Seperti percobaan yang yang dilakukan salah satu bapak hidroponik, Dr.W.F.Gericke dari Universitas California pada tahun 1930-an. Latar belakang Gericke meneliti sistem hidroponik
Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa. Bagi sebagian besar orang tidak akan percaya di antara ratusan tomat yang dimakan tidak tumbuh di atas tanah melainkan di air. Seperti percobaan yang yang dilakukan salah satu bapak hidroponik, Dr.W.F.Gericke dari Universitas California pada tahun 1930-an. Latar belakang Gericke meneliti sistem hidroponik
Peraktek lapang 1
ini, karena ia melihat luas tanah di sekelilingnya terasa semakin menciut untuk ditumbuhi berbagai tanaman. Menurut Nicholls (1986), semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya. Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat makanan. Manipulasi yang dapat dilakukan selain perlakuan di atas adalah pengontrolan. Dengan perawatan rutin (sehari hanya memakan waktu maksimal 20 menit), kita dapat menikmati bermacam buah-buahan, sayur-sayuran, dan rempah-rempah tanaman obat.
· Tanaman hortikultura mudah atau cepat mengalami kebusukan. Meskipun demikian, hasil tanaman hortikultura selalu dibutuhkan setiap hari dalam keadaan segar. Dari pemanenan hingga pemasaran hasil tanaman hortikultura memerlukan penanganan dengan cermat dan efisien. Penanganan yang baik akan meningkatkan kualitas dan harga pasar.
· Tanaman hortikultura memiliki nilai estetika yang tinggi. Hal ini membuat hasil tanaman hortikultura harus memenuhi keinginan masyarakat secara umum. Padahal keinginan yang terlalu tinggi dari masyarakat terkadang berbenturan dengan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Tanaman hortikultura sangat tergantung pada cuaca. Apalagi bila berhadapan dengan serangan hama dan penyakit. Tentu ini adalah tantangan tersendiri bagi kemajuan IPTEK dan keterampilan petani.
· Produksi hasil tanaman hortikultura pada umumnya musiman. Sebagian hasil tanamannya tidak tersedia sepanjang tahun. Contoh hasil tanaman tersebut adalah buah mangga, buah durian, dan buah rambutan.
Peraktek lapang 2
· Karena akan dipanen dalam skala besar, tanaman hortikultura memerlukan luas ruangan atau kebun yang cukup luas. Pemanenan yang banyak menyebabkan biaya distribusi juga menjadi besar. Hal ini berpengaruh pada harga di pasaran.
· Tanaman hortikultura memiliki daerah penanaman dengan kondisi dan keadaan yang spesifik. Tidak pada sembarang tempat. Ada tanaman yang hanya cocok ditanam di pegunungan seperti apel dan kentang. Namun adapula yang bisa ditanam di dataran rendah seperti kangkung dan lombok. Adapula yang berasal dari daerah tertentu seperti duku Palembang, jeruk Garut, mangga Indramayu dan nenas Palembang.
Keadaan Usaha Hortikultura di Indonesia
· Masyarakat masih menggunakan cara tradisional untuk budidaya. Ada yang memperoleh bibit dengan ala kadarnya sehingga terkadang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal ini juga tercermin dalam pemupukan dan pemberantasan hama.
· Penanganan hasil panen masih sederhana. Sebagian daerah pegunungan masih mengandalkan sayuran sebagai hasil utama. Di dataran rendah mengandalkan bunga potong, sedangkan buah-buahan masih belum mendapatkan porsi perhatian yang memadai.
Peraktek lapang 3
Berbagai Kendala Budidaya Tanaman Hortikultura
Ada beberapa catatan bagi budidaya tanaman hortikultura di Indonesia menurut beberapa penelitian yang bisa dituliskan, di antaranya:
· Sebagian besar mutu produk hasil tanaman hortikultura di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sebagai negara agraris, kualitas produk di negeri ini masih kalah oleh Thailand.
· Daerah tropis mempunyai keuntungan dan kerugian. Salah satu kerugiannya adalah serangan hama dan penyakit dengan durasi waktu yang lama. Karena perbedaan cuaca di musim kemarau dan hujan, tidak terlalu ekstrim. Hal ini butuh penanganan khusus dari para ahli untuk memperbaiki jumlah produksi hasil hortikultura.
· Beberapa buah dan sayuran di negeri ini mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan hasil produksi dari negara lain. Tentu ini sebuah pekerjaan rumah untuk meningkatkan bobot dan ukuran hasil hortikultura, sehingga produksi lokal tidak kalah oleh produk impor.
· Tekstur yang memikat, bentuk yang proporsional hingga warna yang mengundang selera masih belum mewarnai sebagian besar produk hortikultura negeri ini.
· Seringkali ketika memakan sayur segar seperti wortel atau kacang panjang, kita merasakan rasa “langu” yang luar biasa, sehingga enggan untuk mengonsumsi sayuran segar. Rasa tersebut timbul akibat akumulasi pestisida di lahan pertanian. Hasil panen yang bebas dari residu pestisida seperti tanaman organik, perlu ditingkatkan. Selain membuat petani lebih sejahtera, juga lebih menyehatkan bagi konsumen khususnya masyarakat kelas bawah.
Peraktek lapang 4
TANAMAN THE

PRAKTEK LAPANAMG TEH
Peraktek lapang 5
Sejarah Teh
Tanaman teh termasuk genus Camellia yang memiliki sekitar 82 species, terutama tersebar di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30° sebelah utara maupun selatan khatulistiwa.
Selain tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) yang dikonsumsi sebagai minuman penyegar, genus Cammelia ini juga mencakup banyak jenis tanaman hias. Kebiasaan minum teh diduga berasal dari China yang kemudian berkembang ke Jepang dan juga Eropa.
Tanaman teh berasal dari wilayah perbatasan negara-negara China selatan (Yunan), Laos Barat Laut, Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut, yang merupakan vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis. Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari China tumbuh di Taman Istana Gubernur Jendral Champhuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat.
Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Teh dari Jawa tercatat pertama kali diterima di Amsterdam tahun 1835. Teh jeis Assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1877, dan ditanam oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat.
Dengan masuknya teh Assam tersebut ke Indonesia, secara berangsur tanaman teh China diganti dengan teh Assam, dan sejak itu pula perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas.
Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh di daerah Simalungun, Sumatera Utara.
Peraktek lapang 7
Pembenihan
Pembenihan teh dengan setek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan benih dalam jumlah banyak, dengan keyakinan bahwa sifat keunggulannya sama dengan pohon induknya.
Pembenihan teh asal setek
Setek teh diambil dari kebun induk teh organik yang dikelola khusus dan dipangkas + 4 bulan sebelumnya
- Ranting setek dipotong setinggi 15 cm dari bidang pangkas.
- Setek (cutting) diambil dari ranting setek sepanjang + 1 ruas dan 1 helai daun.
Setek ditanam dengan menancapkan tangkainya ke dalam tanah di polibeg dengan daun menghadap ke arah tangan, arah daun harus condong ke atas dan tidak boleh saling menutupi satu sama lain.
Seleksi benih, setelah umur 6-7 bulan, benih yang tumbuh sehat dipilih dan dipisahkan dari yang kecil.
Benih siap tanam, umur benih minimum 8 bulan, tinggi minimum 30 cm dengan jumlah daun minimal 5 helai, tumbuh sehat, kekar dan berdaun normal, sistem pengakaran cukup baik, terdapat akar tunggang semu dan tidak ada pembengkakan dan beradaptasi terhadap sinar matahari.
Peraktek lapang 8
Penanaman
Persiapan Lahan
a. Pembongkaran pohon-pohon dan tunggul
Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara yaitu :
- Pohon dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan pohon (ring barking) setinggi 1 m dari leher akar.
- Pembongkaran pohon atau tunggul secara manual sampai ke akar-akarnya dengan mempergunakan takel yang berkekuatan 3-5 ton agar tidak menjadi sumber penyakit.
b. Babad dan nyasap semak belukar
Kegiatan babad dan nyasap dilakukan setelah pembongkaran pohon-pohon dan tunggul selesai. Sampah babadan dibuang ke tempat yang tidak ditanami teh (jurang/dandang). Sampah tidak boleh dibakar pada tempat/lahan yang akan ditanami teh.
Setelah pembabadan, tanah disasap dengan cangkul sedalam 5-10 cm untuk membersihkan gulma.
c. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dengan cara pencangkulan pertama sedalam 60 cm untuk pencangkulan kedua sedalam 30-40 cm dilakukan setelah 2-3 minggu pencangkulan pertama.
Peraktek lapang 8
d. Pembuatan jalan dan saluran drainase
Lebar jalan kebun cukup 1 meter, sedangkan panjangnya tergantung keadaan. Pertimbangkan faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaan pemeliharaan dan pengangkutan pucuk.
Saluran drainase untuk mencegah bahaya erosi dan memperbaiki drainase bagi lahan yang terletak pada cekungan. Pembuatan saluran drainase disesuaikan dengan keadaan lahan, kemiringan serta letak jalan kebun.
MANFAAT TANAMAN
Daun teh adalah bahan pembuat minuman teh yang populer di seluruh penjuru dunia. Air teh yang kita minum mengandung kafein, teofilin, vitamin A, B, C, zat yang tidak larut dalam air seperti serat, protein dan pati serta zat yang larut di dalam air seperti gula, asam amino dan mineral. Jadi selain sebagai minuman, teh juga mempunyai nilai gizi. Disamping itu teh juga bisa dijadikan obat yaitu sebagai antidotum pada keracunan oleh logam-logam berat dan alkaloida.
Daun teh barbau khan aromatik , rasanya agak sepet . Mengenai uraian makroskopiknya yaitu sebagai berikut:
1. Helai daun dapat dikatakan cukup tebal, kaku berbentuk sudip melebar sampai sudip memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bertangkai panjang
2. Permukaan daun bagian atas mengkilat, pada daun muda permukaan bawahnya berambut sedang telah tua menjadi licin
3. Tepi daun bergerigi, agak tergulung ke bawah, berkelenjar yang khas dan terbenam
Kandungan zat pada daunnya 1%-4% kofeine, 7%-15% tanin dan sedikit minyak atsiri. Dalam penggunaan sebagai obat antidotum pada keracunan oleh logam-logam berat dan alkaloida, petiklah kuncup daun berikut 2-3 helai dau dibawahnya, digulung dan difermentasikan untuk kemudian diberikan pada penderita.
Peraktek lapang 9
SYARAT PERTUMBUHAN
1. Iklim
1. urah hujan sebaiknya tidak kurang dari 2.000 mm/tahun.
2. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Tanaman teh tidak tahan kekeringan.
3. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25 derajat C.
4. Kelembaban udara kurang dari 70%.
2. Media Tanaman
1. Jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andosol, Regosol dan Latosol. Namun teh juga dapat dibudidayakan di tanah Podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah, berlempung sampai berdebu, gembur.
2. Derajat keasaman tanah (pH) berkisar antara 4,5-6,0.
3. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi 2 daerh yaitu:(1) dataran rendah: sampai 800 m dpl; (2) dataran sedang: 800-1.200 m dpl; dan (3) dataran tinggi: lebih dari 1.200 meter dpl. Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh.
3. Ketinggian Tempat
Tergantung dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl sampai di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl.
Peraktek lapang 10
Proses Pengelolaan
Tahap-tahap pengelolaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Proses pelayuan (18 – 24 jam).
b. Penggulungan dengan menggunakan the roller.
c. Penggilingan
d. Disortasi basah yakni proses pengayakan.
e. Permentasi alami
f. Pengeringan dengan over dryer.
g. Disortasi kering.
Yang mana ciri-ciri daun teh yang siap dipetik yaitu daun muda atau pucuk yang pertumbuhannya merata dalam petak waktu siap dipetik antara 12-14 hari setelah pemetikan awal pada setiap petak. Setelah teh selesai diolah kemudian dikemas dan daun teh yang sudah siap ekspor ini dapat tahan selama 2 – sekian tahun (tergantung cara penyimpanannya)
Adapun proses pengolahan ini didasarkan pada kelestarian lingkungan hidup, yang dapat kita lihat pada proses pemupukan dan pada proses penanaman yang mengikuti garis kuntur atau arah lereng.
Peraktek lapang 11
Dampak Keberadaan PT.Nittoh Malino Teh bagi Penduduk di Sekitarnya
Dampak lingkungan yang ditimbulkan pleh perusahaan ini secara tersurat memang “tidak” dijumpai dampak negatif yang akurat, hal ini juga dilegalkan oleh pemerintah dengan pemberian plakat, sertifikasi dan semacamnya sebagai perusahaan yang ramah lingkungan.
Dari hasil wawancara dengan warga masyarakat setempat dengan pihak perusahaan menyatakan bahwa keberadaan pabrik ini sama sekali tidak merugikan warga masyarakat. Bahkan sangat menguntungkan kedua belah pihak, karena bagi penduduk sekitar tentu saja bisa mendapatkan pekerjaan tetap maupun untuk menambah penghasilan, apalagi limbah dari pabrik ini sama sekali tidak mengganggu lingkungan disekitarnya malahan limbah pabrik ini dapat digunakan dan diolah kembali oleh penduduk.
Dengan dibangunnya pabrik-pabrik pengolahan teh di kawasan ini sekecil apapun penggunaan bahan kimia untuk mengelolah teh sampai dipasarkan akan menimbulkan dampak yang kurang ramah terhadap lingkungan alamiah.
Namun dari pihak PT. Nittoh Malino Teh sendiri mengaku tidak pernah mendapatkan teguran dari pihak yang bersangkutan perihal masalah pencemaran lingkungan, karena dari penelitian dan observasi yang ada proses pengolahan limbah hanya berupa sisa-sisa pupuk yang kemudian bercampur dengan air yang kemudian mengalir ke jalan-jalan sesuai dengan bentuk lorong kemudian keberadaan pabrik ini sudah memenuhi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Peraktek lapang 12